shoji-shop.com – Memahami rumus kombinasi 2D dan 3D membantu pemula menghitung berbagai susunan angka dengan lebih teratur. Materi ini membahas dasar kombinasi, penerapannya pada pola dua dimensi dan tiga dimensi, serta cara memeriksa hasil agar kesalahan mudah ditemukan.

Rumus kombinasi yang umum digunakan adalah C(n, r) = n! ÷ [r!(n − r)!], dengan n sebagai jumlah pilihan dan r sebagai jumlah pilihan yang diambil. Dengan rumus ini, perhitungan dapat dilakukan secara akurat tanpa menebak atau mengulang susunan yang sama.
Pembahasan juga menjelaskan cara menerapkan rumus pada susunan 2D dan bangun 3D melalui contoh sederhana. Strategi verifikasi membantu memastikan setiap hasil sesuai dengan aturan dan jumlah kemungkinan yang tersedia.
Dasar Kombinasi untuk Pemula

Kombinasi menghitung cara memilih beberapa objek tanpa memperhatikan urutan. Pemahaman notasi nCr, perbedaannya dengan permutasi, serta syarat nilai n dan r membantu mencegah kesalahan saat menghitung rumus 2D dan 3D.
Pengertian Kombinasi dan Notasi nCr
Kombinasi adalah cara memilih r objek dari total n objek ketika urutan tidak penting. Misalnya, memilih 2 siswa dari 5 siswa menghasilkan pilihan yang sama, baik nama siswa ditulis A-B maupun B-A.
Notasi kombinasi biasanya ditulis nCr, C(n, r), atau:
[
\binom{n}{r}
]
Rumus dasarnya adalah:
[
nCr=\frac{n!}{r!(n-r)!}
]
Tanda ! berarti faktorial. Contohnya, (5! = 5 \times 4 \times 3 \times 2 \times 1 = 120). Jika seseorang memilih 2 objek dari 5 objek, hasilnya:
[
5C2=\frac{5!}{2!(5-2)!}=10
]
Jadi, terdapat 10 cara untuk memilihnya.
Perbedaan Kombinasi dengan Permutasi
Kombinasi digunakan saat urutan tidak berpengaruh. Jika seseorang memilih tiga anggota untuk sebuah tim, susunan nama anggota tidak mengubah hasil pilihan. Pilihan A-B-C sama dengan C-B-A.
Permutasi digunakan saat urutan berpengaruh. Contohnya, menentukan juara pertama, kedua, dan ketiga dari beberapa peserta. Susunan A-B-C berbeda dari B-A-C karena posisi setiap peserta berubah.
| Aspek | Kombinasi | Permutasi |
|---|---|---|
| Urutan | Tidak diperhatikan | Diperhatikan |
| Contoh | Memilih anggota tim | Menyusun pemenang |
| Notasi umum | (nCr) | (nPr) |
| Rumus | (\frac{n!}{r!(n-r)!}) | (\frac{n!}{(n-r)!}) |
Jika soal memakai kata memilih, membentuk kelompok, atau menentukan anggota, kombinasi biasanya digunakan. Jika soal memakai kata menyusun, mengatur posisi, atau menentukan peringkat, permutasi lebih tepat.
Syarat Nilai n dan r dalam Perhitungan
Pada rumus kombinasi, n menunjukkan jumlah seluruh objek, sedangkan r menunjukkan jumlah objek yang dipilih. Nilai keduanya harus berupa bilangan bulat tidak negatif.
Syarat utama yang harus dipenuhi adalah:
- (n \geq 0)
- (r \geq 0)
- (r \leq n)
Contohnya, (8C3) valid karena 3 tidak lebih besar dari 8. Sebaliknya, (4C6) tidak sesuai karena jumlah objek yang dipilih melebihi jumlah objek yang tersedia.
Nilai (r=0) tetap valid. Nilainya adalah (nC0=1), karena hanya ada satu cara untuk memilih tidak ada objek. Nilai (r=n) juga menghasilkan 1 karena semua objek dipilih. Data soal perlu diperiksa lebih dahulu agar n dan r tidak tertukar.
Penerapan pada Susunan Dua Dimensi
Kombinasi 2D membantu menghitung pilihan titik, pasangan, atau kelompok objek tanpa memperhatikan urutan. Rumus yang digunakan ialah C(n, r) = n! ÷ [r!(n − r)!], dengan n sebagai jumlah objek dan r sebagai jumlah objek yang dipilih.
Menghitung Pilihan Titik pada Bidang Koordinat
Pada bidang koordinat, setiap titik dapat dianggap sebagai satu objek. Jika tersedia 6 titik dan seseorang memilih 2 titik untuk membentuk garis, jumlah pilihannya adalah:
C(6, 2) = 6! ÷ (2! × 4!) = 15
Urutan titik tidak mengubah garis yang terbentuk. Pasangan titik A dan B sama dengan pasangan titik B dan A, sehingga perhitungan menggunakan kombinasi, bukan permutasi.
Jika seseorang memilih 3 titik dari 8 titik untuk membentuk segitiga, perhitungannya menjadi:
C(8, 3) = 8! ÷ (3! × 5!) = 56
Namun, tiga titik yang terletak pada satu garis tidak membentuk segitiga. Kondisi geometri tersebut harus diperiksa setelah jumlah kombinasi dihitung.
Menentukan Pasangan dan Kelompok Objek 2D
Kombinasi berguna saat objek pada bidang datar dibentuk menjadi pasangan atau kelompok. Contohnya, 10 titik sudut atau penanda tersedia, lalu 4 titik dipilih untuk membentuk satu kelompok. Jumlah kelompok yang mungkin adalah:
C(10, 4) = 210
Perhitungan tersebut menganggap bahwa susunan titik tidak memiliki urutan khusus. Jika kelompok ABCD dianggap sama dengan DCBA, kombinasi menjadi metode yang tepat.
Beberapa aturan penting dapat membantu memilih rumus:
- Pasangan tanpa urutan: gunakan C(n, 2).
- Kelompok tanpa urutan: gunakan C(n, r).
- Susunan dengan urutan: gunakan permutasi.
- Objek yang boleh dipilih ulang: gunakan aturan perkalian atau rumus khusus.
Contoh Soal Kombinasi pada Pola Geometri Datar
Sebuah pola memiliki 7 titik berbeda pada bidang datar. Seseorang memilih 3 titik untuk membentuk segitiga. Jika tidak ada tiga titik yang segaris, jumlah segitiga yang terbentuk ialah:
C(7, 3) = 7! ÷ (3! × 4!) = 35
Jadi, pola tersebut dapat menghasilkan 35 segitiga.
Jika 3 dari 7 titik ternyata segaris, ketiganya menghasilkan satu pilihan yang tidak membentuk segitiga. Pilihan itu harus dikurangi:
35 − 1 = 34 segitiga
Langkah perhitungannya ialah menentukan jumlah semua pilihan tiga titik, memeriksa susunan yang tidak memenuhi bentuk geometri, lalu menguranginya dari hasil kombinasi.
Penerapan pada Bangun Tiga Dimensi
Rumus kombinasi membantu menghitung pilihan titik, rusuk, atau sisi tanpa memperhatikan urutan. Pada ruang tiga dimensi, perhitungan perlu membedakan objek yang dipilih dan posisi setiap objek dalam bangun.
Memilih Titik, Rusuk, dan Sisi pada Ruang
Pada kubus, terdapat 8 titik sudut, 12 rusuk, dan 6 sisi. Jika seseorang memilih 3 titik dari 8 titik sudut, banyak pilihannya adalah:
[
C(8,3)=\frac{8!}{3!(8-3)!}=56
]
Urutan titik tidak memengaruhi hasil. Pilihan titik A, B, dan C sama dengan pilihan C, A, dan B.
Pemilihan rusuk atau sisi memakai cara yang sama. Contohnya, memilih 2 rusuk dari 12 rusuk menghasilkan:
[
C(12,2)=\frac{12!}{2!10!}=66
]
Jika soal meminta titik yang memiliki syarat tertentu, seperti titik pada satu sisi, objek harus disaring lebih dahulu. Setelah jumlah objek yang memenuhi syarat diketahui, rumus kombinasi dapat diterapkan.
Perhitungan Kelompok Objek dalam Koordinat 3D
Pada sistem koordinat 3D, setiap titik ditulis sebagai ((x,y,z)). Kombinasi digunakan ketika soal meminta beberapa titik dipilih dari sekumpulan titik, tanpa memperhatikan urutannya.
Misalnya, tersedia 10 titik berbeda dalam ruang dan dipilih 4 titik. Banyak kelompok yang mungkin adalah:
[
C(10,4)=\frac{10!}{4!6!}=210
]
Jika soal membatasi pilihan berdasarkan bidang atau posisi, titik perlu dikelompokkan lebih dahulu. Contohnya, terdapat 6 titik pada bidang (z=0) dan 4 titik pada bidang (z=1). Untuk memilih 3 titik dengan tepat 2 titik dari (z=0), perhitungannya adalah:
[
C(6,2)\times C(4,1)=15\times4=60
]
Perkalian muncul karena pilihan dari dua kelompok berlangsung bersamaan.
Contoh Soal pada Kubus dan Balok
Sebuah kubus memiliki 8 titik sudut. Jika dipilih 4 titik untuk membentuk kelompok, banyak pilihannya adalah:
[
C(8,4)=\frac{8!}{4!4!}=70
]
Namun, tidak semua kelompok membentuk bidang atau bangun dengan jenis yang sama. Jika soal meminta 3 titik yang berada pada satu sisi kubus, setiap sisi memiliki 4 titik sudut, sehingga terdapat:
[
6\times C(4,3)=6\times4=24
]
Pada balok, jumlah titik sudut tetap 8, tetapi panjang, lebar, dan tingginya dapat berbeda. Karena itu, pemilihan titik tetap memakai (C(8,r)), sedangkan syarat seperti satu sisi atau satu rusuk harus diperiksa berdasarkan posisi titik.
| Objek | Jumlah pada kubus atau balok |
|---|---|
| Titik sudut | 8 |
| Rusuk | 12 |
| Sisi | 6 |
Strategi Verifikasi Hasil Perhitungan
Hasil kombinasi dapat diperiksa dengan menyederhanakan faktorial, membandingkan nilai melalui rumus alternatif, lalu menguji perhitungan memakai kalkulator atau spreadsheet. Pemeriksaan ini membantu menemukan kesalahan tanda, angka, dan urutan operasi.
Penyederhanaan Faktorial secara Aman
Rumus kombinasi adalah:
[
C(n,r)=\frac{n!}{r!(n-r)!}
]
Faktorial besar sebaiknya tidak langsung dihitung penuh. Untuk contoh (C(10,3)), perhitungannya dapat disederhanakan menjadi:
[
\frac{10!}{3!7!}
=\frac{10\times9\times8}{3\times2\times1}
=120
]
Cara ini mengurangi risiko angka terlalu besar dan memudahkan pemeriksaan manual.
Nilai (r) harus memenuhi (0\leq r\leq n). Jika (r>n), hasilnya tidak valid. Ia juga dapat memakai sifat simetri:
[
C(n,r)=C(n,n-r)
]
Dengan demikian, (C(10,7)) dapat dihitung sebagai (C(10,3)), sehingga prosesnya lebih singkat.
Menghindari Kesalahan Umum
Kesalahan paling sering muncul saat seseorang memakai rumus permutasi untuk soal kombinasi. Kombinasi tidak memperhatikan urutan, sehingga rumusnya memakai pembagi (r!). Jika urutan penting, barulah rumus permutasi digunakan.
Mereka juga perlu membedakan kombinasi 2D dan 3D. Kombinasi 2D biasanya memakai satu pasangan parameter, seperti (n) dan (r). Perhitungan 3D dapat melibatkan tiga kelompok atau tiga tahap pemilihan. Setiap tahap harus ditulis jelas sebelum hasilnya dikalikan atau dijumlahkan.
| Pemeriksaan | Hal yang perlu dipastikan |
|---|---|
| Nilai input | (n) dan (r) berupa bilangan bulat |
| Batas nilai | (0\leq r\leq n) |
| Urutan | Tidak dihitung jika soal memakai kombinasi |
| Hasil | Tidak melebihi (2^n) untuk total semua pilihan |
Menggunakan Kalkulator dan Spreadsheet untuk Pengecekan
Kalkulator ilmiah dapat memakai fungsi nCr. Pengguna memasukkan (n), memilih nCr, lalu memasukkan (r). Untuk (C(10,3)), masukan yang benar adalah 10 nCr 3, dengan hasil 120.
Spreadsheet juga dapat memeriksa hasil memakai fungsi COMBIN. Contohnya, rumus =COMBIN(10,3) menghasilkan 120. Jika aplikasi memakai pemisah argumen berbeda, pengguna dapat menyesuaikan tanda koma sesuai pengaturan lokal.
Pemeriksaan silang sebaiknya memakai dua cara: penyederhanaan manual dan alat digital. Jika hasilnya berbeda, ia perlu memeriksa kembali tanda kurung, nilai (n-r), serta posisi (r!) dalam rumus.
